Pemberdayaan Guru Agama Katolik sebagai Pewarta, Pendidik Karakter, dan Agen Perubahan Sosial di Era Artificial Intelligence
Keywords:
Guru Agama Katolik, Artificial Intelligence, Pendidikan Karakter, Literasi Digital, Etika AIAbstract
Artificial intelligence (AI) mengubah cara guru menyiapkan materi, mencari informasi, merancang asesmen, dan berkomunikasi dengan peserta didik. Perubahan tersebut menawarkan peluang personalisasi pembelajaran, tetapi juga membawa risiko bias, ketidakakuratan, pelanggaran privasi, ketergantungan teknologi, dan melemahnya tanggung jawab manusia. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan memberdayakan guru agama Katolik agar mampu mengintegrasikan identitas sebagai pewarta iman, pendidik karakter, dan agen perubahan sosial dengan literasi AI yang etis. Kegiatan inti dilaksanakan pada 31 Agustus 2025 di wilayah Paroki Katedral Santo Yosef Pangkalpinang dan diikuti 28 orang yang terdiri atas guru, panitia, narasumber, serta pastor paroki. Metode yang digunakan mencakup rekoleksi, ceramah interaktif, refleksi panggilan, diskusi kelompok, audit risiko penggunaan AI, dan workshop perancangan pembelajaran. Hasil deskriptif menunjukkan meningkatnya kesadaran peserta mengenai perlunya verifikasi keluaran AI, perlindungan data, transparansi penggunaan teknologi, penguatan relasi guru-siswa, serta penempatan AI sebagai alat bantu dan bukan pengganti pertimbangan pedagogis. Daftar hadir mendukung validitas pelaksanaan kegiatan. Audit dokumen juga menemukan bahwa surat tugas dan berita acara yang dilampirkan mengacu pada kegiatan retret religius yang berbeda, sehingga tidak digunakan sebagai bukti utama kegiatan guru. Program ini menegaskan pentingnya formasi guru yang menggabungkan spiritualitas, profesionalitas, karakter, dan kompetensi AI yang berpusat pada martabat manusia.






